Langsung ke konten utama

Postingan

Sepakbola Mengubah Wajah Kelam Papua

KEKERASAN politik yang berujung pelanggaran HAM hingga masalah ketimpangan ekonomi, menjadi isu yang kita ketahui tentang Papua. Sejak penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia pada 1949, kemudian sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 yang menghasilkan 1.024 perwakilan warga Papua memilih bergabung dengan Indonesia hingga saat ini 14 tahun reformasi, kedua bahasan itu membuat kelam nama Papua. Kisah-kisah penembakkan misterius di Papua di alam reformasi saat ini, sering juga kita dengar. Setidaknya, kisah-kisah dari ribuan kilometer dari tempat saya tinggal ini, sedikit menteror pikiran kita tentang sebegitu tidak kondusifnya tanah Papua. Tahun 2011, saya sempat menengok warga Bandung yang tewas tertembak di Papua saat melakukan pekerjaanya. 

Biarkan Petani Hidup Berdampingan Dengan Robocop

TAHUN lalu saya pernah ditugaskan di Subang oleh kantor. Cukup lama, 11 bulan. Subang ini dikenal daerah dengan sentra pertanian yang sangat baik, seperti halnya Indramayu dan karawang. Apalagi, areal pertanian di Subang didukung irigasi teknis. Belum lagi, hadirnya Saluran Tarum Timur yang pembuatannya integral dengan Bendungan Jatiluhur. (Tulisan mengenai Pertanian dan Tarum Timur pernah saya tulis. Jejak Nasionalisme Di Pantura .) Hanya saja, pertama kali datang ke Subang, banyak cerita miring tentang hilangnya areal persawahan di Subang dan berganti menjadi beton-beton pabrik. Industrialisasi memang keniscayaan. Termasuk manakala banyak sawah yang berubah fungsi. Namun, di tengah keniscayaan itu lah hukum hadir. Adalah tentang bagaimana industri bisa berkelindan dengan usaha pertanian, adalah tentang dimana pabrik bisa berdiri dan adalah tentang dimana sawah bisa tetap ada dan jika beralih fungsi, ancaman hukuman bagi mereka yang mengalih fungsikan.

Kegalauan 13 Januari 2013

HARI Sabtu di awal November tahun ini, sebelum pulang ke rumah orang tua, terlebih dulu saya pulang ke rumah yang saya tempati sejak 2011 di Antapani sekedar untuk istirahat. Sofa merah sangat nyaman dan membuat saya betah duduk berlama-lama disana. Saya ambil buku Air Mata Bola karya Sindhunata di rak buku depan sofa merah tersebut. Isinya berisi seputar feature-feature mengenai sepakbola dunia. Membaca tulisan-tulisan sepakbola dengan gaya penulisan yang kadang dibumbui filsafat ala Shindunata, menarik untuk dinikmati. Saya merasa terinspirasi dengan cerita-cerita di buku tersebut. Hingga akhirnya, saya mencari-cari naskah seputar sepakbola yang pernah saya buat tahun lalu, ketika saya mendapat tugas di desk  olahraga, tepatnya di Persib Bandung.

Rasanya Blackberry Mahal di PING aplikasi BBM di Handphone Murah?

THORSTEIN Heins, bos Blackberry yang dipecat, jelas bukan tumbal teraksesnya  aplikasi Blackberry Messenger (BBM) di perangkat handphone dengan basis sistem operasi Android.  Kurang lebih sekitar lima hingga delapan tahun aplikasi BBM ini merajai pasar smartphone bagi miliaran manusia di bumi. Hanya di blackberry, selama bertahun-tahun di Indonesia,  manusia-manusia modern  ini menikmati aplikasi BBM.   Selama itu pula, mekanisme pasar perlahan tapi pasti mentasbihkan blackberry sebagai handphone paling dicari. Namun, karena harganya cukup tinggi, tidak semua kalangan bisa membeli handphone buatan Kanada tersebut, meskipun, kemudahan kredit juga tersedia untuk mendapatkan smarphone ini.    Terasa sangat menarik kala produsen blackberry, mengeluarkan produk blackberry Knalish Athem Blackberry Bold Limited Edition yang dibanderol seharga Rp 1.8 miliar. Serta Amosu Blackberry Pearl Diamond Edition yang dihargai Rp 800 juta atau handpho...

Teriakannya Tak Terdengar Karena Saya Tidur Pulas

BAGAIMANAPUN juga, ketika pertama kali orang tua  mendaftarkan anaknya ke sebuah institusi pendidikan bernama sekolah, hal yang mungkin diingat saat itu ialah bertemu dengan sekumpulan anak yang terlihat senang bermanja-manja dibelakang pantat ibunya, apalagi melihat suasana sekolah yang masih asing. Lalu ketika pelajaran dimulai, mereka sering melihat ke arah jendela untuk memastikan bahwa ibunya tidak pergi meninggalkan anaknya yang sedang belajar di kelas. Lalu diantara semua kelakuan mereka, tak perlu saya pungkiri, saya bagian dari anak yang melakukan hal tersebut. Termasuk, bersembunyi dibelakang pantat ibu saya karena merasa asing dengan keadaan sekitar sekolah di hari pertama.

Ironi Dua Perempuan Yang Tak Saya Kenal

Rabu, 23 Oktober 2013 PAGI itu saya diminta mendatangi satu keluarga di sebuah dusun di Subang. Alamat yang dicari ternyata sudah tidak berada di alamat itu. Saya hanya diberi tahu oleh ketua RT setempat bahwa orang yang tertera di alamat itu, kini sudah pindah. Lagian, pemilik rumah tersebut, Rosita, ketika tinggal di dusun tersebut, jarang pulang ke rumah. Ibunya pun, Eet, kini bekerja sebagai TKW di Jeddah Arab Saudi. Hanya yang pasti,  pak RT yang bernama Aning memberikan saya alamat untuk menemui saudaranya. Tidak lama, saya menuju alamat yang diberikan pak RT. Tugas saya, memberi kabar bahwa Rosita, pemilik alamat yang saya terima dari kantor, diduga jadi korban traficking dengan modus buruh migran dan sempat bekerja di Malaysia sebagai pembantu. Namun, kabarnya, seseorang dari Malaysia membawanya pergi, entah kemana. Hanya saja, polisi di Pontianak menemukannya dalam keadaan pingsan di pelabuhan Dwikora Pontianak. Setelah itu, Rosita dibawa ke RSUD Pontianak. ...

Akting Luar Biasa Barkhad Abdi & Tom Hanks di Film Captain Philipes

SEBUAH email masuk ke spam dan tak sengaja saya buka. Ternyata, isinya resensi film terbaru dari Tom Hanks, Captain Philipes yang akan dirilis Oktober.Saya cukup antusias dengan film terbaru Tom Hanks. Apalagi setelah film sebelumnya, Cloud Atlas yang disutradarai Wackowski brother tidak membuat saya puas. Selama ini, Tom Hanks selalu memerankan figur seorang moralis dalam setiap filmnya. Mulai dari film Saving Private Ryans, Forrest Gumps, The Terminal yang berduet dengan Catherine Zeta Jones hingga film drama Extremely Loud and Incredibly Close bersama Sandra Bullock. Film Cloud Atlas, yang pasti menurut saya membuat sosok Tom Hanks ini terasa asing. Barkhad Abdi (kanan) berperan sebagai Abdulwali Muse di film Captain Philipes yang saat ini sudah beredar di bioskop.