Langsung ke konten utama

Kegalauan 13 Januari 2013

HARI Sabtu di awal November tahun ini, sebelum pulang ke rumah orang tua, terlebih dulu saya pulang ke rumah yang saya tempati sejak 2011 di Antapani sekedar untuk istirahat. Sofa merah sangat nyaman dan membuat saya betah duduk berlama-lama disana.

Saya ambil buku Air Mata Bola karya Sindhunata di rak buku depan sofa merah tersebut. Isinya berisi seputar feature-feature mengenai sepakbola dunia. Membaca tulisan-tulisan sepakbola dengan gaya penulisan yang kadang dibumbui filsafat ala Shindunata, menarik untuk dinikmati.

Saya merasa terinspirasi dengan cerita-cerita di buku tersebut. Hingga akhirnya, saya mencari-cari naskah seputar sepakbola yang pernah saya buat tahun lalu, ketika saya mendapat tugas di desk  olahraga, tepatnya di Persib Bandung.
Sebelum akhirnya Maret 2013 saya dipindah tugaskan di Subang, setidaknya sejak bulan Agustus 2012 hingga Maret 2013, saya mulai menulis tentang Persib. Meski nama Persib sudah tidak asing lagi, namun jujur saat itu, selama saya hidup, saya baru mengenal Persib sejak Agustus 2012 itu. Dan pada dasarnya, saya tidak pernah menonton pertandingan sepakbola.

Musim lalu, setelah Persib harus puas berada di urutan 7 klasemen ISL, kemudian libur kompetisi, manajemen menunjuk Djadjang Nurdjaman sebagai pelatih, sejumlah pemain telah direkrut, publik berharap Persib juara dengan pelatih lokal karena sepanjang sejarah, Persib mendapat prestasi gemilang ketika diasuh oleh pelatih lokal. Kemudian akhirnya setelah tim siap, jessss!, 13 Januari 2012 adalah laga perdana Persib. Dan lawannya, Persipura Jayapura.

Ada semacam suasana keder, parno, galau dan semacamnya ketika mendengar lawan perdana Persib musim lalu ialah Persipura Jayapura. Bagaimanapun, Persipura adalah salah satu klub terbaik di Indonesia. Dengan kekompakkan, fisik serta mental yang tangguh meski bermain kandang atau tandang, Persipura sudah seperti hantu yang menakutkan bagi klub manapun. 

Terbukti di musim kompetisi yang sudah berakhir, Persipura keluar sebagai juara dengan catatan paling sedikit kalah di laga tandang, laga yang menuntut kesiapan mental sangat tinggi.

Kegalauan laga perdana Persib melawan Persipura itu setidaknya terasa selama beberapa hari sebelumnya. Masalahnya yang saya rasakan saat iu bukan soal menang atau kalah, hanya saja, manajamen Persib  saat itu melakukan terobosan baru dengan merekrut pelatih lokal, seperti yang diharapkan oleh publik. Selain itu, dengan materi pemain yang memiliki kualitas bagus, saat itu ada pemain baru seperti Firman Utina, Supardi, Kenji Adachihara, M Ridwan, Dzumafo Herman Epandi, Nasser Al Sebai, Asri Akbar dan Mbida Messi, publik menantikan kemenangan di laga perdana. 

Terlebih lagi saat itu, dengan semua persiapan yang matang, laga perdana digelar di Stadion Siliwangi atau laga kandang. Sehingga, apa kata dunia jika dengan persiapan yang sangat matang, Persib kalah di laga kandang.

Kalau tidak salah 4 hari sebelum 13 Januari, tim Persipura sudah berada di Bandung. Seminggu sebelum laga pertaruhan itu dimulai, cuaca Kota Bandung dirundung mendung tak berkesudahan. Langit selalu kelam dan angin selalu bertiup kencang ketika menyambut hujan. 

Sehari sebelum pertandingan, Sabtu 12 Januari, pelatih Persipura sudah berada di Stadion Persib, yang juga berada di mess Persib di Jalan Ahmad Yani. Sedari pagi, pelatih asal Brazil itu disibukkan dengan memberikan coaching klinik kepada anak-anak.

Hingga pada akhirnya tepat tengah hari, tim Persib pulang dari latihannya. Semua pemain memasuki kamarnya masing-masing. Pelatih Persib Djadjang Nurdjaman masih ngobrol dengan sejumlah official serta asisten pelatih. 

Tidak lama, Jackson menghampir Djadjang yang saat itu berada di ruangan dokter tim, Rafi Ghani. Dengan suasana kehangatan, keduanya berjabat tangan disertai tawa lepas. Semua yang hadir saat itu hanya tersenyum bahkan cekikikan melihat keduanya sangat akrab. Tiba-tiba, setelah berjabat tangan, Jackson berceloteh.

“Pak Djadjang ini stres kayanya melawan Persipura besok (hari ini). Jangan stres lah. Harusnya kita bermain futsal dulu ya pak Djadjang sebelum besok main. Tapi nanti lah kalau tandang ke Persipura, kita main futsal dulu,” kata Jaksen.

Pertemuan pelatih Persipura Jayapura, Jackson F Thiago dengan pelatih 
Persib Bandung Djadjang Nurdjaman di Mess Persib, sehari sebelum
laga perdana Persib melawan Persipura di Stadion Siliwangi Bandung,
13 Januari 2013.
Suara tawa terdengar dari semua orang yang hadir saat itu termasuk saya. Sejumlah teman mengabadikan momen itu. Djadjang sendiri hanya tersenyum saja mendengar Jackson mengatakan itu. Raut mukanya seperti speechless, seperti membenarkan bahwa sehari sebelum pertandingan,  kegalauan akut melanda dirinya.

Tidak sampai lima menit, Jackson pun berlalu meninggalkan mess Persib. Usai pertemuan yang berkesan itu, setidaknya bagi saya, Djadjang mengaku tidak pernah terlibat langsung bermain dengannya di rumput hijau.  “Saya beda tahun sama dia. Ketika saya masih jadi asisten pelatih di Persib, dia masih jadi pemain,” kata Djadjang.
 
Ketika meninggalkan mess, Jackson berpapasan dengan bek Persib, Supardi di lobi mess Persib. 
“Hey  Supardi, selamat ulang tahun ya. Besok  kadonya ya di Siliwangi,” ujar Jakson sambil berlalu. 

Minggu 13 Januari 2012, hari yang ditunggu-tunggu. Hari yang menentukan akhir dari kegamangan. Kota Bandung diguyur hujan. Laga perdana Persib melawan Persipura, dimulai sekitar pukul 15.30 kick off babak pertama. Ketua Adat di Jayapura, George Awi, juga hadir menyaksikan laga tersebut bersama mantan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi.

Babak petama, kedua tim saling menyerang. Tampil di hadapan ribuan pendukungnya, Persib tampil garang. Serangan-serangan seringkali membahayakan gawang Persipura. Tidak terkecuali dengan Boaz Salosa dan kawan-kawan yang juga kerap kali membahayakan gawang yang dijaga I Made Wirawan. Penonton bergemuruh dengan nyanyian dan tarian diserta suara rima drum yang menghentak.

Hingga pada akhirnya di menit 22 malapetaka datang bagi Persib. Dari tendangan pojok, Bio Paulin yang berambut gimbal menyundul bola dan berhasil menjebol gawang Persib. Seketika, selama beberapa menit Stadion Siliwangi hening, Paulin pun melakukan selebrasi di hadapan ribuan pendukung Persib.

Hingga akhir babak pertama skor masih 1-0 untuk keunggulan Persipura. Di babak kedua, tensi pertandingan memanas karena kedua tim tampil ngotot. Di awal babak kedua, ribuan penonton menepok jidatnya ketika sundulan Dzumao di depan gawang Persipura harus membentur mistar gawang. 

Hingga pada akhir babak kedua, Persib masih tertinggal 1-0. Semua orang siap meluapkan kekecewaannya jika Persib kalah dengan cacian hingga makian di media sosial. Sejumlah media sepertinya sudah menyiapkan headline kelalahan Persib di laga perdana dengan  judul provokatif jika di laga perdana itu Persib kalah. Semua orang galau, semua orang kecewa di menit 90 Persib masih tertinggal 1-0. 

Ini laga perdana. Bagaimana dengan tiga pertandingan selanjutnya yang saat itu, setelah melawan Persipura, Persib harus melawan tiga tim asal Papua, jika pada laga perdana ini kalah. Menit 90 adalah puncak kegamangan. Adalah puncak pertaruhan harga diri bagi Djadjang, bagaimana ia harus menjawab respon publik atas kekalahan di laga perdana. 

Wasit menambah perpanjangan waktu hingga 5 menit. Kegamangan terlihat pada muka-muka yang duduk di bench Persib. Manajer Persib H Umuh Muhtar hanya melongo. Sebagian penonton sudah turun dari tribun menuju keluar stadion, raut muka kekecewaan terlihat.

Menit ke empat perpanjangan waktu, wasit memberikan tendangan pojok. Firman Utina menjadi pengeksekutor. Jika tendangan pojok ini tidak membuahkan gol bagi Persib, maka wasit akan meniup peluit panjang tanda berakhirnya babak kedua dan di laga perdana, kegalauan pun terbukti, Persib kalah.

Tendangan pojok dari mantan kapten timnas melambung mengarah ke Airlangga Sucipto yang siaga di dekat gawang. Namun Airlangga gagal menyambut bola. Wasit Novandri siap meniup peluit akhir babak kedua. Namun rupanya bola lambung yang gagal diterima Airlangga tersebut, mengarah ke Mbida Messi, pemain anyar Persib yang terbebas dari kawalan bek Persipura.  Hanya dengan satu sentuhan kaki, gol pun tercipta dari kaki Messi. Kedudukan pun menjadi 1-1 ketika pertandingan hanya menyisakan waktu 1 menit.

Ribuan penonton di Stadion Siliwangi pun bergemuruh.  Semua orang berpelukan tidak terkecuali yang duduk di bench pemain Persib. Hingar bingar petasan berkelindan dengan teriakan dan nyanyian penonton. Flare menyala-nyala di tribun timur dan utara. Ribuan penonton meluapkan kegembirannya. 

Kegalauan selama sepekan di awal Januari itu pun berakhir dengan skor 1-1. Di laga perdana, Persib terhindar dari kekalahan. Berikut, terselamatkannya Djadjang Nurdjaman dari cacian dan umpatan para pendukung Persib, Bobotoh. 

"Pertandingan cukup menegangkan. Bagaimanapun, Persipura merupakan tim yang mapan. Alhamdulillah. Ini hasil yang patut disyukuri," kata Djadjang menanggapi hasil pertandingan yang meneganggan tersebut. 

Tidak terkecuali dengan Jackson yang juga bersyukur atas raihan poin yang diraih anak asuhnya. "Bertandingan dengan tim sekelas Persib bukan perkara mudah. Ini berkat perjuangan pemain," kata Jackson.

Kompetisi ISL musim lalu telah berakhir dengan Persipura Jayapura keluar sebagai pemenang dan Persib finish di urutan ke-4. PT Liga sendiri belum mengumumkan kapan digelarnya kompetisi ISL selanjutnya digelar. Hanya saja yang pasti, klub legendaris, Persebaya, akan menjadi peserta ISL. Bondo Nekad (Bonek) akan kembali memenuhi jalan-jalan di sekitar stadion, tidak terkecuali di Bandung ketika akan menghadapi Persib atau Pelita Bandung Raya.

Musim selanjutnya, Djadjang masih dipercaya menangani Persib. Sejumlah pemain baru telah disiapkan. Tercatat nama-nama pemain yang tidak asing didengar seperti Coulibaly Djibril, Makan Canote, Tantan, Ahmad Juprianto serta si plontos Ferdinan Sinaga, menjadi wajah baru di skuad Persib musim depan. Dan pada laga perdana ISL musim ini, publik penasaran melihat nama-nama tersebut memakai kostum Persib dan memenangkan laga perdana tersebut, siapapun lawannya. 

Di laga perdana nanti, semoga kegalauan seperti ketika laga perdana Persib melawan Persipura, tidak terjadi....

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.