Langsung ke konten utama

Rasanya Blackberry Mahal di PING aplikasi BBM di Handphone Murah?


THORSTEIN Heins, bos Blackberry yang dipecat, jelas bukan tumbal teraksesnya  aplikasi Blackberry Messenger (BBM) di perangkat handphone dengan basis sistem operasi Android. 

Kurang lebih sekitar lima hingga delapan tahun aplikasi BBM ini merajai pasar smartphone bagi miliaran manusia di bumi. Hanya di blackberry, selama bertahun-tahun di Indonesia,  manusia-manusia modern  ini menikmati aplikasi BBM. 


Selama itu pula, mekanisme pasar perlahan tapi pasti mentasbihkan blackberry sebagai handphone paling dicari. Namun, karena harganya cukup tinggi, tidak semua kalangan bisa membeli handphone buatan Kanada tersebut, meskipun, kemudahan kredit juga tersedia untuk mendapatkan smarphone ini.  


Terasa sangat menarik kala produsen blackberry, mengeluarkan produk blackberry Knalish Athem Blackberry Bold Limited Edition yang dibanderol seharga Rp 1.8 miliar. Serta Amosu Blackberry Pearl Diamond Edition yang dihargai Rp 800 juta atau handphone Amosu Diamond Encrusted Blackberry Curve seharga Rp 2.2 miliar.  Atau bahkan, hp blackberry Z10 yang disebut-sebut termahal di Indonesia seharga Rp 6.5 juta.

Namun, di saat bersamaan, Android Inc yang dibentuk 2005 dan disokong oleh salah satunya Google, di akhir tahun 2013, berhasil meruntuhkan kedigdayaan blackberry dengan aplikasi andalannya, BBM. Bagaimana tidak, selama bertahun-tahun miliaran manusia menggunakan BBM di handphone blackberry, namun kini, semuanya luluh lantah ketika aplikasi BBM ini bisa diakses di handphone berbasis Android.


Lebih sadis lagi, aplikasi BBM di Android ini tidak hanya bisa diakses di handphone Android milik Samsung atau Iphones, namun, lebih ironis lagi manakala BBM ini juga bisa diakses di handphone Android buatan China yang kini tengah melanda pasar-pasar handphone di Asia, setidaknya di Indonesia dengan harga super murah.


Jika biasanya untuk menggunakan aplikasi BBM di handphone Android, setiap orang di Indonesia harus mengeluarkan uang minimal Rp 2 juta untuk handphone blackberry, saat ini, setiap orang bisa menggunakan aplikasi BBM di handphone Android, paling tidak dengan mengeluarkan uang Rp 800 ribu saja, seperti yang dilakukan teman saya yang membeli handphone Android seharga ratusan ribu tersebut.


Teman saya sempat berceloteh. "Gimana rasanya blackberry Z10 di ping oleh bbm di handphone Mito," kata teman saya. 


Itu pertanyaan nyinyir yang saya dengar di akhir tahun 2013 sekaligus pertanyaan filosofis tentang modernitas. Itu kenapa, berangkat dari pertanyaan filosofis itu pula, saya menulis catatan ini di blog saya.


Hadirnya aplikasi BBM di handphone Android adalah keniscayaan modernitas yang tidak bisa dibendung. Dan postmodernitas adalah keniscayaan dari mekanisme pasar yang merajai, ialah ketika handphone tidak hanya sebatas alat komunikasi, namun juga sebagai hegemoni kenikmatan yang dirasakan oleh manusia. 


Para empirisionis meyakini bahwa pengetahuan sejati didapat dari pengamatan empiris dan bersifat aposteriori. Mekanisme dan permintaan pasar atas kedigdayaan aplikasi BBM yang hanya di  blackberry, adalah empirisme yang meniscayakan bahwa aplikasi ini bisa digunakan di handphone android.


Fenomena itu sama halnya seperti yang ditulis Nasim Nicholas Tayeb dalam buku Black Swan. Selama ini, dunia hanya mengakui bahwa hanya ada angsa berwarna putih, namun belakangan juga terdapat angsa hitam.


Bisa diaksesnya aplikasi BBM di handphone android juga fenomena black swan seperti yang ditulis Tayeb. Semula, selama bertahun-tahun, blackberry menghegemoni aplikasi BBM ini. Namun, saat ini, iklan-iklan handphone buatan China atau handphone berkelas seperti Sony Ericson yang memakai OS android, juga ramai-ramai memasang tag line, "bisa BBM". 


Perkembangan teknologi memang penuh dengan segala ketiba-tibaan. Sama halnya dengan sejarah peradaban manusia yang juga penuh dengan ketiba-tibaan. 


Ketiba-tibaan ini setidaknya ialah manifestasi rasionalitas dari manusia yang terlahir dengan kebebasan berpikir. Karena hanya dengan itu, sejarah peradaban manusia selalu menemukan bentuknya yang baru dengan tiba-tiba, termasuk contoh perkembangan teknologi seperti yang saya contohkan di atas dan saat ini, tengah ramai dibicarakan. 


Seperti yang dikatakan Pico Della Mirondella dalam Oration on Dignity of Man yang menjelaskan Tuhan berkata pada manusia :

"Kami telah menempatkanmu sebagai pusat dunia. Dan mulai sekarang, kamu dapat dengan mudah mengamati segala sesuatu dalam dunia. Sehingga dengan kebebasan memilih dan kemulian, seperti hal pencipta dirimu sendiri, kamu dapat membentuk dirimu dan dunia sekehendakmu," 


Dalam teori black swan, sedikitnya ada tiga hal yang menjadi poin utama. Salah satunya adalah kemunculan fenomena yang tiba-tiba ini bersifat ekstrem. Kemunculan aplikasi BBM di handphone android menimbulkan efek ekstrem karena miliaran manusia, yang semula hanya menggunakan BBM di blackberry, kini bisa menggunakannya di handphone android, terlebih lagi, di Indonesia, setiap orang bisa menikmati fasilitas BBM hanya dengan harga ratusan ribu saja. 


Tidak hanya dari segi jumlah, dari segi ekonomi dan politik pun, turut mempengaruhi manakala saat itu, blackberry sendiri sedang dirundung kebangkrutan saat aplikasi BBM ini bisa diakses handphone android. Malah, disertai dengan dipecatnya bos blackberry meski pada akhirnya, mendapat tunjangan dengan nilai spektakuler.


Bisa diaksesnya aplikasi BBM di handphone android yang menjadi trending topik dunia saat ini, seperti yang disebut Karl Popper sebagai teori falsifikasi. Miliaran manusia di bumi selama bertahun-tahun menikmati fasilitas BBM hanya di blackberry. Namun saat ini, keyakinan itu telah luluh lantah. 


Jadi, dari semua caprukan soal BBM, Android dan posmodernitas ini, gimana rasanya blackberry mahal di ping BBM handphone mito? 


Teman saya di twitter, @WismaKarya, menjawabnya. "Asa digerihan ku hinis :(," (serasa disayat duri) tulis teman saya dalam akun twitternya. 



* Percik Pemikiran Kontemporer, Sebuah Pengantar Komprehensif- Dr Donny Gahral Adian
* Kritik Ideologi, Menyingkap Pengetahuan dan Kepentingan Bersama Jurgen Habermas, F Budi Hardiman.
* Black Swan, Hasyim Nicholas Tahyeb

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.