Langsung ke konten utama

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang


SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.

Gunung Bromo dan Gunung Batok yang bersebelahan dan dikelilingi gurun pasir

Setelah menuju kamar di lantai dua, pemandangan Cemoro Lawang terhampar luas dengan diapit pegunungan Tengger. Saya simpan tas berisi pakaian dan perabotan lainnya, rebahan sejenak, dan langsung melihat Bromo dan Gunung Batok yang bentuknya unik tersebut.

Dari penginapan Santoso ke tempat melihat Bromo dan Gunung Batok, sangat dekat. Hanya berjarak 100 meter dengan jalan kaki. Di tebing tidak jauh dari penginapan, terhampar luas Bromo dan pegunungan Tengger.

Waktu menunjukkan pukul 14.00. Masih siang dan sayang jika tidak digunakan semaksimal mungkin. Sayapun berjalan-jalan di sekitar perkampungan. Sejumlah warga Cemoro Lawang yang mayoritas suku Tengger, yang diyakini berleluhur kerajaan Majapahit, saat itu tampak tengah di ladangnya yang ditanami sayuran seperti kentang, bawang dan bawang daun.

Dari atas tebing, sejumlah turis bule mulai menuruni tebing dan berjalan kaki menuju Gunung Bromo dan Gunung Batok yang berjarak 2 kilometer dari penginapan.

Tebing di sekeliling Gunung Bromo. Di foto ini, tepatnya puncak Pananjakan View.
 Di tempat ini, setiap shubuh, pengunjung Bromo menyaksikan sunrise.
Karena dirasa udara cukup segar, saya tertarik untuk berjalan kaki kesana di atas padang pasir yang sesekali bergemuruh ketika tertiup angin. Tebing-tebing tinggi mengelilingi Bromo dan Gunung Batok. AWan putih bertengger di tebing-tebing tersebut. Sesekali, pasir langsung bergemuruh ketiak tertiup angin besar. Pemandangannya benar-benar luar biasa.

Gurun pasir Bromo di kelilingi pegunungan tengger
Dan ternyata, berjalan di atas padang pasir dengan di depan mata Gunung Batok serta dikelilingi pegunungan Tengger yang menjulang, menyenangkan. Tidak terasa cape karena mata benar-benar dimanjakan.

Di tempat parkir yang lokasinya sudah dekat dengan Gunung Batok, transportasi ojek kuda menawarkan saya untuk naik kuda ke puncak kawah Gunung Bromo dengan harga Rp 100 ribu.


Membayangkan menunggang kuda di padang pasir memang menyenangkan. Namun saat itu, saya benar-benar menikmati jalan kaki saya dari Cemoro Lawang hingga puncak kawah Gunung Bromo tanpa menggunakan jaket.

Waktu itu sudah menunjukkan pukul 15.30 ketika saya ditawari menunggang kuda dan akhirnya saya tolak. Namun karena saya berpikir tidak mungkin pulang dari kawah Bromo saya kembali jalan kaki, karena cuaca sudah semakin dingin dan sudah hampir menjelang maghrib, sayapun menerima tawaran penyedia jasa ojeg kuda, yang belakangan diketahui bernama Suko.

"Pulangnya aja mas saya naik kuda, sekarang lagi nikmatin jalan kaki," kata Saya di sebelum tangga menuju kawah Bromo.

Karena jasa menunggang kuda hanya saat pulang dari kawah Bromo, saya pun mulai menawar dengan harga Rp 50 ribu untuk jarak sekitar 2.5 kilo. Ia masih bersikukuh dengan harga Rp 100 ribu. Namun belakangan, karena dia juga terdesak untuk segera pulang karena hari sudah sore, akhirnya harga jatuh di harga RP 50 ribu.

Sudah deal, akhirnya saya menaiki tangga menuju kawah Bromo. Konon, jumlah anak tangga menuju kawah Bromo itu sebanyak 250 anak tangga. Namun saat itu, saya tidak menghitungnya.

Gunung Bromo memiliki kawah dengan diameter ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Di bibir kawah, hanya seperempatnya saja yang dipagari. Selebihnya tidak. Namun, meski ada beberapa bagian bibir kawah yang tidak dipagari, wisatawan asing beberapa diantaranya berjalan kaki menuju bibir kawah yang tidak berpagar.

Kawah Gunung Bromo
Di bibir kawah Bromo, kaldera Bromo ini terhampar luas. Di satu titik, terdapat bekas aliran lahar dingin ketika Bromo ini meletus 2-3 tahun yang lalu. Namun, meski begitu, warga Tengger ini sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut.

Puas berfoto dan menikmati kawah Bromo serta kaldera Bromo, sayapun kembali turun dan menemui Suko yang menyewakan kuda. Karena sudah cukup lelah berjalan 2.5 kilo dari Cemara Lawang menuju kawah Bromo dengan jalan kaki, saya pun menikmati perjalanan menunggang kuda dengan dipandu Suko.

Namun, karena laju kuda yang lambat membuat saya bosan. Memahami situasi yang saya rasakan, Suko pun membiarkan saya menunggang kuda sendirian tanpa dipandu. Tentunya, setelah saya diberi penjelasan mengenai bagaimana menunggang kuda.

Ya, sayapun akhirnya menunggang kuda sendirian tanpa dipandu. Saya memacu kecepatan menunggang kuda dengan kecepatan 20-35 kilometer. Merasa keren karena memacu kuda sendiri di atas hamparan pasir Bromo. Sedangkan Suko, berjalan setengah berlari di belakang saya yang tengah menunggang kuda.

"Jangan khawatir mas, kudanya sudah jinak dan sudah tahu jalan pulang. Mas tinggal mengatur kecepatan laju kudanya saja, selebihnya dia sudah tahu jalan pulang," kata Suko dengan berteriak.


Mendengar teriakan Suko, sayapun semakin semangat memacu kuda asal Sumbawa yang ia beli 10 juta 5 tahun lalu tersebut.

Hanya dengan 20 menit, akhirnya saya tiba di penginapan tempat saya tinggal. Sesuai harga yang disepakati, saya membayar SUko Rp 50 ribu. Tapi karena saya merasa puas bisa menunggang kuda sendiri tanpa dipandu dan mengemudikannya secepat yang saya mau, saya memberi tambahan biaya sebesar Rp 20 ribu pada Suko.

Ketika waktu sudah melewati pukul 18.00, saya bertemu dengan pak Santoso. Beliau menawarkan tour Bromo menggunakan kendaraan jenis jeep merek Toyota Land Cruiser dengan tujuan lokasi Pananjakan 1, tempat paling bagus melihat matahari terbit di Bromo, bukit savana, pasir berbisik dan kawah Bromo. Tanpa saya menanyakan harga sewa jeep dengan share bersama pengunjung lain, saya mengatakan saya tidak ingin naik jeep, tapi saya ingin naik motor.

"Naik jeep kurang menantang. Saya ingin naik motor pak. Tujuan saya Pananjakan 1, bukit savana, pasir berbisik, Ranu Pani yakni tempat pendakian pertama menuju Semeru serta menuju puncak bukit Gunung Batok," kata Saya.

Tanpa basa-basi, ia pun menyodorkan harga untuk rencana tour saya sebesar Rp 250 ribu. Namun, karena saya rasa itu terlalu berat, akhirnya saya menegonya dan akhirnya, harga untuk tempat yang akan saya kunjungi ini sebesar RP 200 ribu.

Memang agak mahal. Namun, saya sih merasa, pergi shubuh ke lokasi-lokasi di Bromo menggunakan jeep kurang menantang. Saya ingin lebih dari sekedar apa yang orang lain rasakan ketika mengunjungi Bromo.

Setelah deal harga, saya pun bergegas mandi dengan air hangat karena cuaca di Cemoro Lawang lewat pukul 18.00 sudah sangat dingin. Aplikasi Weather di smartphone saya menunjukkan suhu udara pada pukul 19.00 itu mencapai 15 derajat celcius.

Dusun Cemoro Lawang Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura.
Di penginapan, ternyata, saya tinggal di penginapan yang sama bersama 4 wisatawan domestik yang sempat satu elf bersama saya ketika dari Probolinggo menuju Cemara Lawang. Diantara berempat itu, yakni Asep, warga Majalengka yang kini bekerja di Batam sebagai perawat. Satria, pemuda asal Surabaya yang pertama kali mengunjungi Bromo. Dua orang lagi, pasangan muda yang gila travelling, Dewa dan Bintang. Keduanya berumur 19 tahun dan berpacaran, berasal dari Bogor, namun Dewa tinggal di Bandung karena kuliahnya di Bandung.

Komentar

  1. Mau tanya enak nya kalo dari stasiun malang ke bromo naik apa ya?rencana maret mau kesana sm pacar sy hehe mau backpakeran aja nii. Dan kalo bs tidak naik jeep pas disana, melainkan sewa motor mas. Mohon info nya ya, thanks.

    BalasHapus
  2. Klo dari Malang kurang tau mba. Tp simplenya, dari terminal purabaya Surabaya, sy naik bus jurusan Surabaya - Probolinggo trun di termnal Probolinggo. Dari terminal, tinggl jalan kaki di sebelah terninal ada elf jurusan langsung kr Bromo atau cemoro lawang.

    Disana bisa pake motor sewa atau pake sopir motor. Ini kontak org bromo yg bisa sewa motor skaligus prnginapan 082141256485

    BalasHapus
  3. oh dr terminal probolinggo ad yg lgsg ke bromo ya, kalo jalan dari cemoro lawang cukup jauh yaa?? jarak dari penginapan nya ke bromo Jauh gak mas? Kira2 brp km? Oh iya, untuk penyewaan motor hrnya perjam atau bebas? motornya jenis apa ya mas, matic atau sjenis motor trail? Thx before ya mas

    BalasHapus
  4. Iya ada mba. Dari cemoro lawang deket sih, gunung batok udh keliatan dari Cemoro Lawang. Cuma utk mendekat banget ya perlu kendaraan.Makanya ada sewa jeep. Utk sewa motor, sy blm pernah per jam sih. Tp sewa motor sama sopir motornya biar skaligus jd guide. Jd klo bawa sendiri sy nggak tah.

    Ke bromo, nginapnya di Cemoro Lawang.

    BalasHapus
  5. Keren Mas pemandangannya. jadi pingin ke sana.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.