Langsung ke konten utama

Selamat Menjalani Ritual Pilkada Subang Teman-teman

TEMAN-teman baru saya di Kota Subang saat ini, Agustus 2013, sedang bersiap menyambut pemimpin baru mereka, Bupati dan Wakil Bupati Subang. Dari diskusi-diskusi ringan kami, teman-teman saya ini, sebagian bersikap terang-terangan memuji calon jagoan mereka. Bahkan mencak-mencak menilai para calon pemimpin mereka, tidak ada satupun yang layak, dan memutuskan untuk datang ke TPS, kemudian mencoreti kertas suara dengan tulisan, bulshit!

Saya sendiri, tidak pernah membayangkan akan memiliki sejumlah teman-teman yang lucu-lucu dan mengerikan di kota ini. Tapi bagaimanapun juga, saya bersyukur karena kantor mengirim saya ke kota ini hingga akhirnya bisa mengenal mereka.

8 September nanti, teman-teman saya ini akan memilih satu dari enam pasangan calon. Di Pilkada Subang ini, pasangan nomor 6, disebut-sebut sebagai pasangan yang calon bupati dan wakil bupatinya, sama-sama perempuan, yang pertama terjadi di republik ini. 

Pasangan nomor enam ini, yang keduanya perempuan, semacam duri dalam daging dalam kebesaran nama PDI Perjuangan yang selama ini, memiliki basis masa besar di kota ini. Itu karena pasangan nomor enam ini, lahir dan besar di PDIP. Bahkan, calon wakil bupati dari pasangan nomor 6, istri dari mantan bupati Subang yang membesarkan PDIP di kota ini, namun kini harus mendekam di LP Sukamiskin, Eep Hidayat.

Kehadiran pasangan nomo 6 ini di kertas suara 8 September nanti, seperti teror bagi keadiluhungan PDIP di kota ini. Itu karena di ajang pilkada nanti, mereka tidak lagi maju dari PDIP dan memilih maju dari jalur perseorangan. 

Sedangan dari PDIP sendiri, 8 September nanti, partai dengan warna merah mendominasi ini berkoalisi dengan Partai Golkar, dan menempati nomor urut 2, Ojang Sohandi dan Imas Aryumningsih. Ojang sendiri merupakan incumbent dan pernah menjabat sebagai wakil bupati bersama Eep Hidayat.

Obrolan-obrolan bersama sejumlah teman, majunya Ojang sebagai calon bupati dari PDIP, semacam sikap kedurhakaan seorang manusia atas orang tuanya, dalam hal ini PDIP yang telah membesarkannya. Hanya saja, ini politik dan tidak ada istilah durhaka di dalamnya.

Pasangan nomor 6 dan nomor 2 ini, menjadi topik pembicaraan yang hangat dalam keseharian saya di kota ini. Karena bagaimanapun juga, pertarungan dua pasangan calon ini, sekaligus pertarungan menentkan siapa kader PDIP yang loyal. 

Pasangan nomor 6, sebelum hijrah ke luar PDIP, memiliki basis masa PDIP yang cukup besar di Subang. Sehingga, dalam pertarungan tanggal 8 September tersebut, menjadi hari penentuan apakah PDIP ini akan tetap menjadi partai besar di kota ini, atau malah sebaliknya, terdegradasi layaknya klub sepakbola PSPS dalam kompetisi Indonesia Super League.

Sejarah pemilu di Indonesia mencatatkan bahwa PDIP selalu memperoleh suara terbesar di Kabupaten Subang. Pada pemilu 1999, PDIP memperoleh raihan suara sebesar 43.7 persen dan pada Pemilu 2009, PDIP meraih suara 28.4 persen. Dan Pilkada Subang September nanti, paling tidak akan menentukan nasib partai berlambang banteng dalam lingkaran ini.

Bahasan hadirnya pasangan nomor 6 sebagai teror bagi PDIP dalam Pilkada Subang, hanya sebatas riak yang tidak substansial jika mengingat betapa obrolan keseharian teman-teman saya di kota ini, infratruktur jalan raya selalu menjadi keluhan utama di kota ini.

Dan semua pasangan calon,  berjani memperbaiki kualitas infrastruktur yang banyak dikeluhkan teman-teman saya ini jika terpilih nanti.

Semoga doa dan harapan teman-teman saya yang mengharapkan infrastruktur jalan yang bagus ini bisa terwujud setelah ritual Pilkada Subang ini. Selamat memilih temen-teman, karena pada saatnya nanti, saya akan tidur seharian di kamar atau pergi liburan di suatu tempat. :-)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.