Langsung ke konten utama

Jangan Takut Ke Bromo! #4 - Eksotisme Cemoro Lawang

KEBESARAN nama Kerajaan Majapahit bisa terasakan ketika tiba di Dusun Cemoro Lawang Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Bagaimanapun juga, konon katanya, masyarakat Dusun Cemoro Lawang yang mayoritas Suku Tengger, leluhurnya adalah masyarakat kerajaan Majapahit.

Dikisahkan, saat detik-detik kehancuran Majapahit, masyarakat sekitar kerajaan melarikan diri ke berbagai daerah. Diantaranya, mereka hijrah ke pegunungan Tengger dan berbaur kemudian melanjutkan kehidupan baru hingga sekarang.

Dusun Cemoro Lawang Desa Ngadisari Kecamatan Probolinggo dilihat dari puncak
Pananjakan bersamaan dengan sunrise bromo
Mayoritas warga Dusun Cemoro Lawang yang bersuku Tengger ini, beragama Hindu. Pada waktu-waktu tertentu, mereka merayakan hari kebesaran mereka dengan ritual adat istiadat mereka, seperti melemparkan hasil-hasil alam ke dalam kawah Gunung Bromo. Tempat peribadatan mereka sendiri, pura, terbilang estetis karena lokasinya berada di bawah Gunung Bromo dan Batok.


Kejayaan Majapahit semakin terasa kala saya berbincang banyak hal tentang kehidupan keseharian warga Cemoro Lawang. Umumnya, warga disana mengolah ladang mereka dengan kebun-kebun bawang, kentang, bawang daun, kol dan kebun lainnya.

Dengan mata pencaharian dari ladang kebun tersebut, mereka hidup berkecukupan. Bahkan, ketika dunia mengenai sistem kredit atas kepemilikian kendaraan, mereka seolah menyingkirkannya. Terbukti, kendaraan seperti motor, kendaraan roda empat seperti kendaraan jeep merek Toyota Land Cruiser atau sering disebut hard top, bisa mereka miliki tanpa kredit.

"Orang sini mah enggak pernah kredit mas. Mobil hard top yang harganya puluhan juta hingga ratusan juta rupiah, ya dibeli kontan. Apalagi motor, enggak pernah dicicil," kata Santuso, warga Cemoro lawang.

Secara kasat mata dengan melihat kondisi geografis Cemoro Lawang yang terpisah sekitar 30 kilometer dari Kabupaten Probolinggo, seperti mustahil mereka bisa membeli kendaraan puluhan hingga ratusan juta rupiah dengan kontan.

Kendaraan jeep merek Toyota Land Cruiser yang dimiliki warga Cemoro Lawang.
Umumnya, jeep ini disewa pengunjung untuk berpetualang di Bromo
Namun, Santuso kembali menegaskan bahwa hal itu memang terjadi di Cemoro Lawang. Ia mengatakan, dengan mengelola ladang, itu bisa membuat kehidupan masyarakat serba kecukupan.

"Berladang itu untungnya melebihi keuntungan menyewakan kuda, hard top atau ojek mas," ujarnya.

Selain berladang, warga Cemoro Lawang juga menjadikan wisata sebagai sampingan usaha mereka. Seperti halnya menyewakan kendaraan hard top, ojeg dan kuda untuk berpetualang di Bromo. Rata-rata, sekali menyewakan kendaraan tersebut, mereka bisa mendapatkan keuntungan mulai dari 50 ribu hingga 600 ribu rupiah dari pengunjung. Mulai dari penyewaan kuda, hard top maupun roda dua.

"Kalau sewa kuda sehari, kalau banyak pengunjung, bisa sampai Rp 400 ribu mas. Itu kalau rame, kalau lagi sepi, ya kurang dari segitu. Selebihnya ya berladang lebih menguntungkan, panen kentang saja, dalam waktu lima bulan bisa dapet Rp 10 juta," katanya.

Mas Suko, yang menyewakan jasa tumpangan kuda di Bromo
Di Cemoro Lawang ini, sejauh saya berkunjung dan berkeliling disana, memang sedikit rumah-rumah warga yang dinilai tidak layak. Kebanyakan, rumah di Cemoro Lawang sudah permanen.

Tidak hanya dari segi ekonomi, dari tata sosial pun, saya cukup kagum dengan mereka. Itu karena kebersamaan mereka selaku masyarakat, begitu terjaga. "Desa ini desa terbersih se Jatim lo mas, gotong royongnya juga sama," kata Santuso.

Ada satu hal yang menarik. Mereka memiliki semacam nilai-nilai sosial yang dipegang teguh hingga kini. Dan bagi saya, itu sangat keren.

"Disini itu, kalau mau nikah ya harus punya ijazah SMA dulu, kalau gak punya, ya enggak boleh nikah," kata Suyono, pria yang mengantarkan saya berpetualang di Bromo menggunakan roda dua.

Saya pun bertanya balik. Lantas, bagaimana jika pernikahan dilakukan karena hamil duluan dan belum mendapat ijazah SMA. Suyono pun menjelaskan bahwa hal itu memiliki sanksinya sendiri.

"Ya nikah dilanjutin tapi ada sanksinya. Si perempuan atau laki-lakinya, harus mendirikan bangunan fasilitas warga di Cemoro Lawang, itu wajib," ujarnya.

Saya yang cukup ngenes sekali dengan setiap pernikahan dini, apalagi di bawah 20 tahun, merasa takjub dengan aturan yang mengharuskan menikah setelah mendapat ijazah SMA. Apa ya, bayangin saja, sekarang yang ijazah S1 saja sulit mendapat kerja, apalagi ini, enggak dapat ijazah SMA, mengerikan.

Suku Tengger ini, memiliki ciri khas khusus. Yakni, mereka selalu mengenakan sarung khusus yang diikatkan ke leher mereka. Setiap kali mereka beraktifitas, mereka selalu menggunakan sarung itu.

Motif sarung khas suku Tengger di Cemoro Lawang
"Ini ciri khas disini mas, pake sarung. Tapi bikinnya enggak disini, di luar. Cuma kami mesan motifnya harus seperti ini," ujar Suyono.

Saya pun tertarik untuk memilikinya. Di Cemoro Lawang, sarung-sarung semacam itu bisa dibeli oleh pengunjung. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 150 ribu.

Itulah keunikan Suku Tengger di pegunungan Tengger Bromo yang saya jumpai. Obrolan-obrolan semacam itu dengan warga yang memiliki kearifan lokal, begitu menarik. Paling tidak, itu bermanfaat buat saya dan mungkin juga yang lainnya untuk mentafakuri kekuasan Tuhan yang tak berbatas. Terlebih lagi, untuk mengasah pikir dan mengkaji rasa.

Saya dan mas SUyono, guide saya selama di Bromo

Komentar

  1. maz , bs minta contack person persewaan motor di cemoro lawang ??

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.