Langsung ke konten utama

Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1


RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.



Kota pertama yang harus saya kunjungi sebelum menuju Bromo, yakni Malang dan Surabaya. Perburuan tiket menuju dua kota itu pun, saya lakukan. Perburuan tiket ke Malang akhirnya gagal total. Semua tiket, kereta api sudah penuh dan pesawat harganya selangit.

Harga tiket masuk yang terpampang di gerbang masuk
 Taman Nasional Bromo Tengger.
Akhirnya, pilihan jatuh menuju Surabaya. Perburuan tiket kereta dilakukan dan akhirnya, mau enggak mau, saya membeli tiket kereta api Turangga menuju Surabaya dengan harga Rp 250 ribu. Tentunya, harga itu harga yang berlaku saat arus mudik dan balik. Layaknya hukum ekonomi, supply and demand. Permintaan tiket kereta saat lebaran membludak, jadi kesempatan bagi PT KAI untuk meningkatkan harga jual tiket.

Singkat kata, tiket keberangkatan sudah di tangan. Ekpres Turangga malam. Dari Bandung pukul 20.00, dan diperkirakan sampai Stasiun Gubeng pukul 08.00 pagi.

Masalah baru, tiket untuk kepulangan dari Surabaya menuju Bandung. Harga tiket kereta api yang sama, dipatok mencapai Rp 400 ribu. Itu jadi pilihan satu-satunya karena untuk kelas bisnis dan ekonomi, sudah habis terjual.

Perburuan tiket pulang kembali dilakukan. Akhirnya, tiket pesawat Merpati dengan promo harga saat lebaran, saya ambil dengan harga Rp 467 ribu. Dengan pertimbangan, ngapain beli tiket kereta api dengan harga Rp 400 ribu namun saya harus membusuk sekitar 12 jam di kereta. Tentunya, saya memilih pesawat meski dengan harga sama, namun jarak tempuh cukup efisien.

Perjalanan kali ini, menuju Bromo, saya lakukan seorang diri. Ya, saya tertarik menjalani solo traveling. Saya sempat ajak pacar gak jelas saya untuk kesana, ketika belum tahu harga tiket membludak. Namun, ketika tahu tiket sudah selangit, saya batal mengajaknya.

Hari pertama, Rabu (14/8), tas sudah penuh dengan segala perabotan. Hanya dengan sekali naik angkot Antapani-Ciroyom dari Jalan Purwakarta, 40 menit saya sudah tiba Stasiun Bandung.

Hanya menunggu 30 menit di stasiun, kereta yang mengangkut saya tiba. Dan saya sudah duduk manis ketika kereta sudah bergerak menuju timur pulau jawa.

Perjalanan di kereta cukup nyaman karena saya duduk sendirian setidaknya hingga Yogyakarta. Itupun, saya lalui dengan tidur kemudian terbangun pukul 05.00 pagi hari Kamis (15/8).

Perlahan tapi pasti, saat itu, saya semacam menjadi saksi matahari mulai menerangi Surabaya. Perkampungan-perkampungan kumuh di pinggiran rel kereta api serta padatnya arus lalu lintas, membuat mata saya tidak nyaman.

Namun tidak lama, Stasiun Gubeng yang dituju sudah tiba. Saya pun keluar dan sempat jalan-jalan dulu di dalam stasiun. Kemudian, saya berjalan kaki sejauh 3 kilometer dari stasiun kemudian saya naik bus kota menuju terminal bus Bungurasih Surabaya dengan ongkos Rp 4000,  tanpa istirahat terlebih dahulu.

Sekitar pukul 10 pagi saya tiba di terminal Bungurasih. Lagi-lagi, tanpa istirahat, langsung gas pol naik bus patas jurusan Surabaya - Banyuwangi, dengan terlebih dulu memesan pada kondektur untuk berhenti di terminal Probolinggo.

Di dalam bus, pemandangan Gunung Arjuno terlihat jelas ketika bus melintas tol Sidoarjo. Saya sempat mereka-reka kemungkinan gunung tersebut Gunung Semeru. Namun, penumpang di samping saya memberi tahu bahwa itu Gunung Arjuno yang berada di Malang namun ketinggiannya bisa di lihat dari Sidoarjo. Baiklah, akhirnya sang kondektur menagih ongkos bus. Ketika saya sebutkan tujuan saya ke terminal Probolinggo, dia menyebutkan biaya yang harus saya keluarkan sebesar Rp 30 ribu.

Untuk alasan kenyamanan di bus, saya tidak masalah membayar Rp 30 ribu. Meskipun, ada bus AKAS Surabaya-Probolinggo yang harganya setengahnya. Tapi sekali lagi, karena alasan kenyamanan, Rp 30 ribu masih terbilang murah.

Sepanjang perjalanan, saya mengecek GPS tepatnya ketika memasuki Pasuruan. Ternyata, kota ini berada di dataran rendah. Dan hanya menyisakan 10-15 kilo dari jalan raya utama menuju bibir pantai. Dilihat dari geografisnya, ya, inilah pantai utara Jatim. Ketika saya memasuki wilayah Probolinggo, hal yang sama juga terjadi. Probolinggo masih tetap berada di jalur pantura.

Tepat pukul 12.00, saya tiba di terminal Probolinggo. Perut sudah terasa lapar. Warung soto Lamongan di depan terminal menjadi tujuan saya karena memang perut sudah terasa lapar.

Turis asing, sibuk dengan ransel-ransel besarnya. Ada sekitar tujuh orang. Mendengar percakapan mereka, sepertinya mereka berasal dari Chekoslovakia. Mereka pun berangkat menggunakan bus "byson", atau kendaraan umum jenis elf yang sudah biasa mengantarkan wisatawan ke Gunung Bromo dari terminal Probolinggo.

Kini, di warung makan tersebut, hanya menyisakan saya dan dua perempuan asing asal German. Eva dan Sheeva. Rupanya, mereka sudah turun dari Bromo di hari sebelumnya. Dan pertemuan itu, mereka sedang istirahat makan siang untuk kemudian mereka melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta. Di meja tempat duduk, saya sempat melihat buku travel guide Indonesia.

Setelah turun dari elf dari Probolinggo menuju Cemoro Lawang
Usai makan, seperti yang pernah saya baca di blog-blog yang pernah datang ke Bromo, elf byson yang mengantarkan penumpang dari terminal Probolinggo ke Cemoro Lawang, kampung terakhir sebelum Bromo, selaku ngetem. Masalahnya, ngetemnya ini yang lama dan tidak akan maju sebelum penumpangnya penuh.

Dan hari pertama, cukup beruntung bagi saya. Pasalnya, setelah keluar dari warung makan, kemudian menyeberang, saya sempat bertanya pada sopir di sekitar warung, mana elf yang menuju Cemoro Lawang.

"Itu mas, cepet lari, itu elfnya mau berangkat," kata orang tua yang sempat saya tanyai di sekitar warung.

Mendengar omongan tersebut, saya pun berlari menuju elf. Tampak empat orang turis domestik dan lima orang turis asing.

Puncak keberuntungan pertama saya di hari pertama menuju Bromo ini, tidak menunggu elf menuju Cemoro Lawang hingga berjam-jam, meskipun dengan ongkos Rp 30 ribu. Biasanya, di hari biasa, ongkosnya hanya Rp 25 ribu.

Dan ke empat turis domestik yang satu elf bersama saya, kelak akhirnya menjadi teman baru saya bersama satu orang turis asal Spanyol, Unai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.