Langsung ke konten utama

Sepakbola Mengubah Wajah Kelam Papua

KEKERASAN politik yang berujung pelanggaran HAM hingga masalah ketimpangan ekonomi, menjadi isu yang kita ketahui tentang Papua. Sejak penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia pada 1949, kemudian sejak Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) tahun 1969 yang menghasilkan 1.024 perwakilan warga Papua memilih bergabung dengan Indonesia hingga saat ini 14 tahun reformasi, kedua bahasan itu membuat kelam nama Papua.

Kisah-kisah penembakkan misterius di Papua di alam reformasi saat ini, sering juga kita dengar. Setidaknya, kisah-kisah dari ribuan kilometer dari tempat saya tinggal ini, sedikit menteror pikiran kita tentang sebegitu tidak kondusifnya tanah Papua. Tahun 2011, saya sempat menengok warga Bandung yang tewas tertembak di Papua saat melakukan pekerjaanya. 


Tim peneliti Lipi pada 2008, dalam Papua Road Map, Negotiating The Past, Improving The Present and Securing The Future menyebutkan 4 sumber masalah utama yang dialami dan terjadi di Papua. Pertama mengenah sejarah integrasi, status dan identitas politik yang menyebutkan bahwa orang Papua bukan bagian dari Indonesia karena melanesia. Selain itu, Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) di tahun 1969 tidak sah karena tidak representasikan aspirasi rakyat Papua serta dengan berintegrasinya Papua dengan Indonesia, itu diartikan sebagai kolonialisasi Indonesia. 

Kedua, kekerasan politik dan pelanggaran HAM. Era orde baru menilai apa yang terjadi di Papua dengan menghadirkan militer di Papua. Dan itu berujung dengan kekerasan. Meskipun militer bertindak untuk menjaga keutuhan NKRI, namun toh kekerasan tetap dianggap warga Papua sebagai pelanggaran HAM.

Ketiga, kegagalan pembangunan. Bagi pemerintah, pembangunan di Papua dinilai sebagai modernisasi Papua. Namun justru yang terjadi, pembangunan dinilai orang Papua sebagai migrasi tenaga kerja dari luar dan memarjinalisasi orang Papua. Dan sumber masalah ke empat di Papua menurut catatan dari Lipi ini, inkonsistensi kebijakan otsus dan marjinalisasi orang Papua. Kalangan nasionalis Indonesia menilai bahwa otsus Papua diletakkan dalam integrasi nasional dan pembangunan. Hanya saja, nasionalis di Papua menilai otsus sama dengan pelurusan sejarah Papua, perlindungan hak warga Papua, pembangunan untuk Papua dan repapuanisasi.

Pelanggaran HAM di masa lalu di beberapa daerah di Indonesia, termasuk di Papua, menjadi bahasan yang menarik perhatian saya sejak saya kuliah di fakultas hukum. Tugas akhir S1, tentang bagaimana menyelesaikan pelanggaran HAM berat di masa lalu setelah Mahkamah Konstitusi membatalkan Undang-undang Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi sudah saya susun sejak semester 5. 

Tapi kali ini saya tidak ingin menulis tentang kedua hal itu. Apalagi tentang pelanggaran HAM berat di Papua. Saya lahir dan tinggal di Bandung dan tak pernah menginjakkan kaki di tanah Papua. Saya tahu Papua dari tulisan di internet, makalah, thesis, TV dan media lainnya. Jadi, kalau notes ini sangat minim data atau banyak kekurangan atau menjustifikasi kebenaran, saya mohon maaf. Yang pasti, nama Papua kini menarik perhatian saya karena salah satu klub sepak bola disana, Persipura Jayapura. 

Dengan jersey merah hitam serta logo Freeport McMoran, Persipura menjadi salah satu klub sepakbola paling digdaya di republik ini. Hampir setiap musim memainkan 80 persen pemain asli Papua, tidak ayal, Persipura jadi tim yang paling disegani di Indonesia.

Saya pertama kali melihat langsung laga Persipura di Stadion Siliwangi ketika menghadapi Persib Bandung awal tahun 2013 di laga perdana Persib di Liga Super Indonesia. Di hadapan ribuan bobotoh saat itu, Persipura bermain luar biasa dan hampir membuat Persib malu di hadapan ribuan suporternya di laga perdana Persib. Itu karena saat itu, selama 90 menit, Persipura unggul 0-1 atas Persib. Namun, di menit tambahan, Persib bisa menyamakan kedudukan menjadi 1-1 hingga akhir laga melalui gol Mbida Messi. Dan selamatlah Persib dari kekalahannya di laga perdana mereka. Drama Selamat Dari Kekalahan Perdana

Saya duduk di tribun VIP. Saat itu, saya duduk berdekatan dengan sekitar 20-an orang suporter Persipura. Tidak hanya itu, dari para suporter Persipura itulah, saya tahu bahwa laga itu dihadiri oleh Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Port Numbay, George Awi yang duduk berdampingan dengan mantan Sekda Kota Bandung, Edi Siswadi yang kini jadi terdakwa kasus korupsi Bansos Kota Bandung. 

"Iya, beliau ketua adat suku di Jayapura. Sengaja datang ke sini untuk melihat langsung tim kebanggaan kota kami," ujar seorang supporter Persipura yang duduk di dekat saya saat itu.

25 September 2005 bisa jadi hari yang revolusioner bagi Papua. Melawan Persija Jakarta di Gelora Bung Karno, bermain di bawah tekanan Persija dan puluhan ribu The Jak Mania, Persipura sempat tertinggal 2-1 di menit 80 babak kedua. Kekalahan sudah di depan mata. Hanya saja, di menit 82, Korinus bisa menyamakan kedudukan menjadi 2-2 hingga babak kedua berakhir. 
Di hadapan gedung-gedung pencakar langit di tanah Jakarta, simbol peradaban republik ini yang jauh lebih maju dibanding Papua, anak-anak Papua ini mulai menyalakan satu api revolusi saat skor hingga babak kedua berakhir imbang 2-2. Membakar api revolusi butuh waktu 15 menit usai berakhirnya babak kedua itu. 

Masih di bawah tekanan suporter Persija. Dalam perpanjangan waktu itu, anak-anak Papua ini akhirnya bisa membakar api revolusi di tanah Jakarta. Gol Ian Louis Kabes di babak extra time itu membawa Persipura juara liga untuk pertama kalinya sepanjang sejarah sepakbola di republik ini. Anak-anak Jakarta terpaksa harus mengakui keunggulan saudara-saudaranya dari timur Indonesia.

Dan sejak saat itu pula-lah, menurut saya, Persipura untuk pertama kalinya merubah imej Papua yang selama ini dikenal negatif karena kondisi keamanannya hingga soal keterbatasan ekonomi, termasuk empat hal yang disebutkan oleh Lipi. Pelanggaran HAM di Papua hingga masalah ketimpangan ekonomi Papua, tetap terjadi meski Persipura juara di tahun itu.

Tapi setidaknya, yang menarik bagi saya, raihan prestasi itu menambah sisi positif Papua di mata orang banyak. Apalagi, tidak hanya di 2005, pada kompetisi 2008, 2009, 2011 dan 2013, Persipura juga meraih gelar juara. Ya, sekali lagi, prestasi klub asal Jayapura itu, merubah imej Papua. Terlebih lagi, saat korporasi asal Amerika Serikat Freeport McMoran menggelontorkan Rp 18 miliar untuk mensponsori klub tersebut.

Kehadiran Freeport mensponsori Papua, juga menarik. Kita tahu bahwa Freeport ini korporasi raksasa dunia yang membuka pertambangan di Papua. Bahkan, selama ini Freeport sering disebut sebagai simbol kapitalisme global dan simbol kekuasaan Amerika Serikat di Indonesia. 

Perpaduan warna hitam dan merah di jersey Persipura dengan logo Freeport di bagian dada jersey tersebut, setidaknya menyiratkan pesan. Amerika Serikat melalui perusahaannya di Papua, Freeport, cinta dan mendukung kemajuan sepakbola Papua melalui Fersipura. Meskipun, ada juga klub lain di Papua, yang sedikit menyayangkan Freeport hanya mensponsori Persipura, sedangkan klub sepakbola di Papua tidak hanya Persipura.

Berhasilnya Persipura di 2005, kemungkinan menjadi era emas sepakbola Papua sejak era 1940-1950. Karena selama itu, sejak Papua bergabung dengan Indonesia, informasi yang saya kumpulkan belum menemukan prestasi gemilang dalam dunia sepakbolanya. Atau mungkin, imej Papua yang selalu liar di mata publik, menutup prestasi-prestasi sepakbola Papua. 

Kalaupun ada, itu baru sebatas mencapai runner up. Yakni saat Perseman Manokwari dari Papua Barat harus bertekuk lutut di hadapan Persib Bandung pada final liga sepakbola era Perserikatan di tahun 1986. Selebihnya, belum ada klub sepakbola asal Papua yang berhasil menjuarai liga sebelum tahun 2005.

Di luar Persipura sebagai klub pertama di Papua yang berhasil menjuarai liga di Indonesia, para pemain asal Papua ini juga menjadi langganan di timnas Indonesia. Tercatat ada nama Boaz Solossa, Emannual Wanggai, Patrick Wanggai, Titus Bonai. Bahkan di beberapa musim, Boaz Solossa menyabet gelar pemain dengan pencetak gol terbanyak di Indonesia. 

Dan kini, setelah menjuarai kompetisi Liga Super Indonesia 2013, Persipura mendapat tiket untuk melakoni Liga Champions Asia 2014. Sebelumnya, Persipura sempat beberapa kali melakoni liga champions Asia tersebut. Namun selalu kandas di tengah jalan. Dan kini, setelah 5 kali juara di Indonesia, mereka menargetkan untuk menjadi tim terbaik di Asia dengan menjuarai Liga Champions Asia itu.

Sepakbola Papua dalam sejarah sepakbola di Indonesia, juga tergolong masih muda jika dibandingkan dengan sejarah sepakbola di daerah lain, seperti halnya di Jawa. 

Jika Persija Jakarta berhasil meraih juara untuk pertama kalinya pada 1931 mengalahkan PSIM Yogyakarta dan Persib Bandung menjuarai liga pertama di tahun 1937 saat mengalahkan Persis Solo, justru sepakbola Papua baru dimulai secara sistematis pada era 1950-an dengan didirikanya Voetbalbond Hollandia en Omstreken (VHO) dan Voetbal Bond Hollandia (VBH) pada 1950. Keduanya lahir di Jayapura. (Sejarah sepakbola Papua silahkan klik : Sejarah Sepakbola Papua)

Namun yang pasti, pergulatan sepakbola Papua sejak puluhan tahun lalu itu, kini menuai hasil. Bagaimanapun juga, sepakbola telah merubah wajah Papua yang selama ini dikenal kelam. Bangsa ini tidak akan lagi mengenal Papua sebagai daerah miskin tempat di masa lalu pernah terjadi pelanggaran HAM, daerah terpinggirkan dari peradaban yang berpusat di tanah Jawa, tapi Papua yang melahirkan para pemain sepakbola berkualitas. Dan semua orang atas nama bangsa Indonesia, harus bangga atas kalian!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.