Langsung ke konten utama

Akting Luar Biasa Barkhad Abdi & Tom Hanks di Film Captain Philipes

SEBUAH email masuk ke spam dan tak sengaja saya buka. Ternyata, isinya resensi film terbaru dari Tom Hanks, Captain Philipes yang akan dirilis Oktober.Saya cukup antusias dengan film terbaru Tom Hanks. Apalagi setelah film sebelumnya, Cloud Atlas yang disutradarai Wackowski brother tidak membuat saya puas.

Selama ini, Tom Hanks selalu memerankan figur seorang moralis dalam setiap filmnya. Mulai dari film Saving Private Ryans, Forrest Gumps, The Terminal yang berduet dengan Catherine Zeta Jones hingga film drama Extremely Loud and Incredibly Close bersama Sandra Bullock. Film Cloud Atlas, yang pasti menurut saya membuat sosok Tom Hanks ini terasa asing.

Barkhad Abdi (kanan) berperan sebagai Abdulwali Muse di film
Captain Philipes yang saat ini sudah beredar di bioskop.
Di film Captain Philips, Tom memerankan Richard Philipes, seorang kapten kapal yang mengantarkan barang ke Kenya namun melewati perairan Somalia. Namun kemudian, mereka dibajak oleh perompak Somalia yang dipimpin oleh Abdulwali Muse yang diperankan oleh Barkhad Abdi.

Cerita film ini saya pikir sangat sederhana dan di awal film, sudah terbayang akan berakhir happy ending.Dalam film ini, kita juga bisa melihat armada laut Amerika Serikat yang lengkap dengan senjata canggih mereka, beserta keprofesionalitasan tentara laut Amerika dalam film.

Namun, saya pikir bukan itu substansi ceritanya. Saya hanya puas dengan melihat akting Tom Hanks bersama Barkhad Abdi yang bermain total di film tersebut. 

Kita bisa lihat kemapanan Tom Hanks dalam berakting sebagai kapten kapal. Dan kita juga bisa melihat akting new comers Barkhad Abdi di film tersebut, yang benar-benar mengesankan sebagai penjahat dari negara miskin di benua hitam, Afrika. 

Dikisahkan, Barkhad Abdi yang berperan sebagai Abdulwali Muse ini harus membajak kapal oleh pimpinan pemberontakan di Somalia. Posturnya yang kurus, keriting dan hitam, membuat penguasaan perannya begitu maksimal.

Dengan menggunakan perahu boat dari bibir pantai Somalia, Muse dan ketiga rekannya mengejar kapal Philipes yang mengangkut 15 ribu ton barang-barang. Setelah gagal mengejar, hari kedua, Muse akhirnya bisa menduduki kapal Philipes. 

Tidak hanya itu, Muse sendiri berperan sebagai nelayan serta perompak yang menurut saya masih berpikir naif. Setidaknya itu terlihat ketika dirinya berulangkali mengatakan dirinya berasal dari Somalia namun sangat mencintai Amerika, namun dia melakukannya dengan senjata.

Sementara Philipes, seorang Amerika yang dengan keluhungan peradabannya sebagai manusia dari dunia maju, menilai bahwa para perompak ini tidak perlu melakukan hal seperti ini dan tak perlu mati di akhir cerita.

Kisah-kisah moralis bisa terlihat kala Philipes berada di kapal moci bersama para perompak namun dikepung oleh para tentara Amerika. Pada akhir cerita, Muse akhirnya melakukan perundingan pembebasan Philipes di pangkalan laut Amerika dengan meninggalkan tiga bajak laut lainya bersama Philipes dalam sekoci.

Bagi saya, Muse yang berpakaian lusuh, penuh keringat, hitam dan kumal kemudian menaiki kapal Amerika menjadi pemandangan menarik karena saat itu, tentara Amerika lengkap dengan senjata mengelilinginya. Ketika tiba di kapal ia berkata "Im not Al Qaeda and I Love Amerika," kata Muse di hadapan para tentara laut Amerika. Menariknya lagi, aksen bahasa inggrisnya terdengar begitu lugu.

Pemandangan yang lucu ketika awak kapal yang dipimpin Kapten Philipes yang sembunyi di geladak, kemudian menyerang Muse lalu menutup kepalanya dengan kain. Saat itu, ketika awak kapal barang ini membuka kain di kepalanya langsung berkata dengan aksen bahasa inggris yang lucu. "Wow..woww, I love Amerika and everythink gonna be alright," kata Muse. 

Perawakan Muse dalam film ini, memang sangat mencitrakan dia sebagai penjahat laut dengan senjata otomatisnya. Sehingga, sangat wajar jika Paul Greengrass yang sebelumnya menyutradarai Matt Damon di film Bourne Ultimatum, memilih Barkhad Abdi untuk memerankan Abdulwali Muse.

Film ini berakhir saat para sniper tentara Amerika menembak ketiga perompak yang berada di dalam sekoci bersama sang kapten Philips. Suasana menjadi dramatis saat Philipes, menangis dan berteriak saat mayat-mayat perompak bergelatakan di hadapannya. Bahkan, suasana emosional begitu terasa saat Philipes tidak bisa berkata apa-apa ketika dirawat oleh medis. Sesekali ia hanya terisak, berkata terbata-bata dan kemudian menangis lagi, apalagi dengan angle camera yang di fokuskan ke wajah Philipes, sangat terasa emosional.

Sementara itu, suasana dramatis juga terlihat saat Muse hanya tertunduk lesu saat tentara Amerika memborgolnya dan mengatakan tidak ada perundingan dengannya. Muse yang terlihat lelah dan kumal, hanya tertunduk lesu saat seorang tentara Amerika mengatakan bahwa Muse akan dibawa ke Amerika Serikat untuk menjalani persidangan.

Barkhad Abdi sendiri, rupanya pendatang baru dalamm dunia box office Amerika. Ia memang lahir di Somalia dan sejak usia 14 tahun tinggal di Minnesota, Amerika Serikat. Ia mengikuti casting film ini dan kemudian ia berhasil memerankan Abdulwal Muse.

Penguasaan peran Abdi di film ini sangat merepresentasikan kondisi Somalia yang penuh dengan keputusasaan, perang, kemiskinan dan kelaparan. Jika biasanya anda selalu terkagum-kagum dengan akting Tom Hanks, maka dalam film ini, bersiaplah untuk melontarkan pujian sebanyak-banyaknya untuk Barkhad Abdi, sang bajak laut dengan senjata otomatir bernama Abdulwali Muse.

Selamat menontonton!  

Tom Hanks (kiri) yang berperan sebagai Richard Philipes bersama
Barkhad Abdi (kanan) yang berperan sebagai Abdulwali Abdi, perompak
dari Somalia yang membajak kapal kapten Philipes. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.