Langsung ke konten utama

Ironi Dua Perempuan Yang Tak Saya Kenal

Rabu, 23 Oktober 2013

PAGI itu saya diminta mendatangi satu keluarga di sebuah dusun di Subang. Alamat yang dicari ternyata sudah tidak berada di alamat itu. Saya hanya diberi tahu oleh ketua RT setempat bahwa orang yang tertera di alamat itu, kini sudah pindah.

Lagian, pemilik rumah tersebut, Rosita, ketika tinggal di dusun tersebut, jarang pulang ke rumah. Ibunya pun, Eet, kini bekerja sebagai TKW di Jeddah Arab Saudi. Hanya yang pasti,  pak RT yang bernama Aning memberikan saya alamat untuk menemui saudaranya.

Tidak lama, saya menuju alamat yang diberikan pak RT. Tugas saya, memberi kabar bahwa Rosita, pemilik alamat yang saya terima dari kantor, diduga jadi korban traficking dengan modus buruh migran dan sempat bekerja di Malaysia sebagai pembantu. Namun, kabarnya, seseorang dari Malaysia membawanya pergi, entah kemana. Hanya saja, polisi di Pontianak menemukannya dalam keadaan pingsan di pelabuhan Dwikora Pontianak. Setelah itu, Rosita dibawa ke RSUD Pontianak.



Akhirnya saya bertemu dengan Imas, adik satu ibu dengan Rosita. Ketika saya jelaskan bahwa kini kakaknya berada di RSUD Pontianak, Imas tidak bergeming selayaknya mendapat kabar duka. Hanya saja, dia mengatakan bahwa keluarganya telah mencari-cari dia selama bertahun-tahun dan tidak pernah ketemu. 

Imas tidak merasa kaget kakaknya menjadi korban traficking. Saya hanya diberi nomor telepon ibunya, Eet yang berada di Jeddah dan selama 6 tahun mencari-cari anaknya. "Nanti mamah mau nelpon mas Mega, ditunggu aja," kata Imas.

Akhirnya saya pulang dan mengunjungi salah satu cafe yang banyak ditumbuhi pepohonan hingga terasa adem di sudut Subang kota. Dua teman kerja saya segera menghampiri. Tiba-tiba smartphone saya berdering. Nomor yang agak aneh dan ketika diangkat, suara ibu-ibu terdengar. Dan ternyata, dia bernama Eet, ibunya mba Rosita yang dikabarkan terkapar di RSUD Pontianak.

Tanpa basa-basi, dia langsung bertanya siapa saya dan menanyakan kebenaran kabar Rosita yang telah ia cari-cari selama bertahun-tahun."Kamu siapa, anak saya dimana, saya sudah cari-cari dia selama 6 tahun kalau saya pulang ke Indonesia tapi sampai sekarang tidak ketemu," kata ibu Eet di sambungan telpon.

Saya kaget dengan rentetan pertanyaan yang dilontarkan. Secara perlahan, saya jelaskan siapa saya dan saya katakan bahwa anaknya, Rosita, kini sudah berada Pontianak namun dalam keadaan sakit dan dirawat di RSUD Pontianak.

Mendengar penjelasan saya, ibu Eet terdengar terisak, mungkin menangis. Ia meminta saya untuk membantu dirinya memulangkan Rosita yang saat itu sedang terkapar. Tidak hanya itu, ia juga meminta dipulangkan dari Malaysia.

"Bagaimana dia bisa di Malaysia, dia itu sakit ginjal. Kalau jadi TKI lalu dia jadi pembantu, dia enggak bakalan bisa. Siapa yang memberangkatkannya. Kalau bisa, segera pulangkan dari Malaysia," ujar Eet.

Saya kembali menjawab bahwa saya sendiri tidak tahu apa-apa mengenai siapa yang memberangkatkan anaknya. Saya sendiri tidak kenal siapa Rosita dan belum pernah sekalipun bertemu dengannya. "Ibu, anak ibu sekarang sudah ada di Indonesia, sudah tidak di Malaysia lagi. Sekarang di Pontianak," kata saya.

Mendengar jawaban tersebut, bu Eet yang masih terisak langsung tertawa ketika saya beri penjelasan bahwa Pontianak itu justru berada di Indonesia, bukan Malaysia.

"Ooh Pontianak itu di Indonesia. Kapan bisa dipulangkan. Kalau begitu, alhamdulillah anak saya masih ada dan masih hidup, saya menunggu dia dipulangkan," ujarnya. seraya tertawa dan menanti kabar kepulangan anaknya dari Pontianak.

Selang dua hari setelah pembicaraan dengan Bu Eet, pagi-pagi saya mendapat kabar dari kantor bahwa Rosita, TKW asal Subang yang diduga jadi korban traficking, meninggal di RSUD Pontianak jam 04.00 dini hari. Saya tidak mengetahui penyebab kematiannya. 

Hanya saja, kabar tersebut membuat saya kaget. Bagaimana saya memberitahu bu Eet tentang kabar tersebut. Sedangkan dua hari lalu, dia tampak senang dan terharu mendengar anaknya yang ia cari selama 6 tahun tidak membuahkan hasil, sudah ada kabar masih hidup.

Ini ironis dan sangat tragis. Saya berada di posisi sebagai pemberi kabar bahagia sekaligus pemberi kabar duka bagi seorang ibu yang baru saya kenal selama beberapa jam saja. Lebih ironis manakala ia mengetahui kabar tersebut setelah sebelumnya selama bertahun-tahun mencari dan kini, sang ibu berada puluhan ribu kilometer dari tempat saya tinggal, harus mengetahui anaknya telah meninggal tanpa bisa melihat jenazahanya.

Saya butuh waktu beberapa jam menyampaikan kabar tersebut pada keluarganya. Untuk menenangkan diri, saya kabari salah satu keluarganya yang berada di Subang melalui telpon. "Innalillahaiwainnalilahirojiun. Kami kaget mendengarnya. Saya mewakili keluarga mengucapkan terima kasih karena telah memberi kabar kakak saya yang selama ini saya cari," kata kakak Rosita, Deka.

Hingga pada siang harinya, saya beranikan diri menghubungi ibu Eet yang berada di Jeddah. Sambungan pertama telponnya diangkat oleh seorang perempuan dan terdengar berbahasa Inggris.

"Hallo, this is from Indonesia, may I speak with Mrs Eet," kata saya lewat telpon tersebut.

Tidak berapa lama, terdengar suara bu Eet. "Saya lagi kerja, nanti telpon lagi," ujarnya.

Namun, saya paksakan untuk mengatakan anaknya yang sempat saya kabarkan masih hidup, kini telah meninggal dunia. Di telpon, dia terdengar menangis. Kata-katanya terdengar samar. Bulu kuduk saya langsung berdiri, saya bisa merasakan kesedihannya.

Bu Eet hanya menangis. Yang terdengar hanya suara isak tangis dan ia terpaksa harus menutup telpon. "Saya lagi kerja, nanti saya telpon lagi," kata bu Eet dengan suara terisak.

Saya tertegun beberapa saat. Suasana kesedihan yang dialami bu Eet masih terasa. Saya tahu persis bagaimana perasaannya. Dua hari lalu saya kabarkan anaknya masih hidup lalu dua hari kemudian anaknya telah meninggal. 

Saya kembali tersadar karena hand phone saya kembali berdering. Rupanya bu Eet kembali menghubungi. Ketika saya angkat, terdengar isak tangis. "Dia itu anak saya, meskipun dia nakal dan bandel, dia tetap anak saya. Saya mencari-cari dia selama 6 tahun setiap pulang ke Indonesia, saya akan beri uang Rp 2 juta jika ada yang menemukan. Tapi itu enggak berhasil," kata Eet dengan suara terisak-isak.

Saya tidak bisa berkata apapun dan membiarkan dia terus berbicara meluapkan kesedihannya. Sehingga ia bertanya bagaimana cara memulangkannya. Saat itu, saya hanya menyerahkan nomor telpon pak Oscar, staf Dinsos dari Pontianak yang bisa dia hubungi.

"Apa dia bisa dikuburkan di Subang. Saya masih di Jeddah dan baru 7 bulan lagi pulang ke Indonesia. Kalau dia sudah dikuburkan disana, tidak apa-apa, meski saya tidak melihat dia yang terakhir kali, saya ikhlas. Saya ucapkan terima kasih buat semua orang yang memberi kabar anak saya," ujarnya.

Saya masih dalam posisi yang tidak tahu harus berbuat apa-apa. Saya hanya meminta dia untuk sabar dan tawakal. Saya minta dia untuk berdoa semoga anaknya mendapat terbaik di sisi Tuhan penguasa alam dan isinya. 

"Makasih dek. Kalau anak saya sudah dikuburkan di Pontianak, saya akan hubungi anak saya yang di Subang untuk menggelar tahlilan. Saya harap adek datang di tahlilan tersebut. Meski saya hanya dapat kabar kematian Rosita, terima kasih sudah mengabarkan anak saya," kata Rosita, masih dengan terbata-bata dan terisak. Telpon pun ditutup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.