Langsung ke konten utama

Menengok Bayi Owa Jawa Bernama Uci di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa

HARI Senin saat pemerintah menetapkan cuti bersama seiringan dengan hari raya Iduladha saya menyempatkan pulang ke rumah, berkumpul dengan keluarga, setelah sejak 2011, saya mengisi rumah di Antapani. Jarak dengan orang tua semakin jauh saat sejak Maret tahun ini, saya ditugaskan kantor untuk bekerja disana.

Masa liburan di rumah yang panjang ini cukup jenuh juga. Beberapa teman lama saya hubungi dan ternyata, ada agenda mengunjungi Pusat Rehabilitasi Primata Jawa, yang didirikan Aspinal Foundation di  Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung, kedatangan anggota baru seiringan dengan lahirnya bayi primata jenis owa Jawa, yang diberi nama Uci.

Bayi owa Jawa bernama Uci, hasil perkawinan antara Ukong dan Chery
di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa. Courtessy Foto : Sigit Ibrahim
Waktu menjelang sore, kami tiba di Patuha Resort, karena tempat pusat rehabilitasi tersebut, tepat berada belakang resort ini. Setelah berjalan tidak lebih dari 1 kilometer, kami bertemu dengan Sigit Ibrahim, dia Kepala Perawat Satwa di pusat rehabilitasi tersebut.

Perjalanan dengan berjalan kaki di jalan setapak ke tempat rehabilitasi ini, cukup menyenangkan juga karena berjalan di dasar kaki Gunung Tikukur, yang masih berada satu komplek pegunungan dengan Gunung Patuha.

Cuaca sendiri saat itu terpantau di kisaran 20-23 derajat celcius. Selain itu, tutupan hutan yang lebat, membuat suasana petualangan begitu terasa. Dari kejauhan, terdengar suara teriakan primata, burung hingga jangkrik hutan.

Tiba di lokasi, suasana cukup sepi. Tempat simulasi owa yang terbuat dari bambu, banyak ditemukan disana yang berfungsi sebagai tempat owa ini direhabilitasi.

Terdapat dua rumah yang dijadikan tempat tinggal para perawat satwa langka ini. Lokasinya, tepat berada di dasar Gunung Tikukur yang memiliki tutupan hutan sangat lebat. 

Kopi dan air panas disuguhkan di meja dengan alam terbuka, di bawah pohon pinus yang menjulang tinggi. Seekor tupai sempat terlihat tengah berjibaku memanjat pohon.

"Kami kedatangan bayi baru nih, namanya Uci, bayi owa Jawa , lahirJuli lalu, hasil perkawinan primata owa Jawa yang direhabilitasi disini, yakni Ukong betina dan Cherry jantan," kata Sigit.

Uci ini menjadi bayi pertama yang lahir di tempat rehabilitasi tersebut sejak tempat tersebut didirikan pada 2011. Perkawinan owa bernama Ukong dan Cherry ini sendiri dimulai sejak awal 2013.

Ukong dan Cherry ini sebelumnya memang sudah kawinkan. Namun prediksi Sigit dan teman-temannya, Ukong ini telah mengandung sejak awal tahun kemudian melahirkan di bulan Juli.

Ukong dan Cherry, keduanya berada di pusat rehabilitasi ini karena diserahkan oleh warga yang memiliki satwa dilindungi tersebut secara terpisah. Setelah dilakukan pemeriksaan, keduanya dikawinkan.

"Saat kami menerima dua satwa itu, keduanya terjangkit hepatitis B. Untuk bayi yang baru lahir, setelah melahirkan si Uci ini langsung divaksinasi supaya tidak terjangkit hepatitis B," kata Sigit, sambil menyuguhkan kopi panas di tempat yang dikelilingi hutan tersebut.

Keluarga Owa Jawa, Ukong dan Chery beserta bayinya yang baru lahir di
Pusat Rehabilitasi Primata Jawa. Courtessy Foto : Sigit Ibrahim

Kami sendiri menyesal baru mengetahui bayi tersebut kini sudah berusia tiga bulan. Padahal, kami sendiri ingin melihat proses lahir bayi owa jawa ini. Saat itu, Sigit mengatakan bahwa proses melahirkan bayi owa yang kini sudah berusia 3 bulan tersebut, cukup dramatis. Bahkan, ia baru pertama kali melihat langsung kejadian seorang Owa betina tersebut melahirkan.

Jelang melahirkan, Sigit masih ingat saat itu, dirinya memisahkan Cherry sang jantan dari betinanya, Ukong yang tengah berjibaku melahirkan. Cherry, saat melahirkan, disimpan di kandang terpisah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat Ukong melahirkan. Itu dilakukan supaya si jantan tidak mengganggu betinanya yang tengah melahirkan.

"Suasananya bagi kami sangat terharu. Ketika si Ukong ini menjalani detik-detik melahirkan, kami melihat si Cherry ini gelisah. Di kandang, ia terus bergerak kesana kemari, kadang hanya diam sambil melihat si betinanya," kata Sigit.

Detik-detik jelang kelahiran bayi owa ini semakin penuh drama ketika kepala bayi ini sudah terlihat keluar dari kemaluan induknya. Sementara sang induk, tidak bereaksi berlebih atau menahan sakit seperti yang dialami oleh manusia.

"Kalau betina owa Jawa melahirkan, ya biasa saja. Tapi ketika si bayinya sudah keluar, itu bayi terjatuh dari lubang kemaluannya. Saat itu kami sempat kaget dan ternyata dengan tanggap si induknya langsung menangkap si bayi seketika. Itu benar-benar luar biasa," kata Sigit. 

Setelah bayi owa itu lahir, sang induk memutus tali ari dan memakan balinya kemudian langsung memeluknya. Membawanya ke tempat yang tersinari matahari, seolah-olah sang induk  ingin memperkenalkan bayi Owa Jawa ini pada dunia.

Owa Jawa bernama Ukong, tengah mengasuh bayinya yang berusia
tiga bulan dan dinamai Uci, di Pusat Rehabilitasi Primata Jawa.
Courtessy Foto : Sigit Ibrahim
"Baru setelah bayinya lahir, si jantan Cherry ini langsung menghampiri si induk. Dia melihat kondisi bayi kemudian seketika langsung bersiaga kalau ada hal-hal yang mencurigakan. Dan sikap itu masih berlangsung sampai sekarang di usia tiga bulan," ujarnya.

Kondisi Uci yang berusia tiga bulan saat ini, sudah menggunakan tiga dari empat tangannya untuk bergerak atau sekedar bergelayut. Rambutnya pun sekarang sudah tumbuh berwarna abu-abu, sama persis seperti kedua orang tuanya, Ukong yang berusia 13 tahun dan Cherry yang berusia 11 tahun.

Setelah melahirkan, Sigit memberitahu kami bahwa Sigit dan teman-temannya ini masih memantau  perkembangan mereka. Setelah usia Uci 8 bulan, mereka akan melepasnya ke hutan di Gunung Tilu bersama kedua orang tua mereka.

Selain Ukong dan Cherry yang telah kawin kemudian melahirkan, di tempat itu, tengah dikawinkan juga  4 pasang owa Jawa. Yakni, Owa Jawa yang lahir di Inggris bernama Regina, dan Owa Jawa yang diserahkan oleh warga Kecamatan Banjaran.

"Perkembangan terakhir, Owa Jawa bernama Regina yang lahir di Inggris ini sudah tidak mens. Selain itu, ada sepasang lagi yang sekarang sedang dalam proses kawin," kata Sigit.

Proses perkawinan owa Jawa ini, kata Sigit, terbilang gampang-gampang susah. Menurutnya, ada beberapa tahapan untuk mengawinkan mereka. Seperti misalnya menggabungkan owa jantan dan betina dalam satu kandang, namun terpisah sekat kawat agar keduanya bisa saling berkomunikasi.

Kalau cocok, kadang mereka berpelukan dalam kandang kecil yang disekat kecil ini. Bahkan, meski cocok, mereka juga bertengkar untuk berebut makanan. Jika sudah benar-benar terjalin chemistry, mereka akhirnya digabung dalam kandang besar untuk proses kawin.

Sejak didirikan 2011, tempat rehabilitasi ini yang semula hanya memiliki 8 ekor primata, mulai dari Owa Jawa, Lutung dan Surili, kini, sudah memiliki puluhan jenis primata langka asal Jawa.

"Sekarang sudah ada 24 jenis primata jawa. 80 persen primata itu diserahkan oleh warga yang tidak sengaja memilikinya. Selebihnya, translokasi dari daerah lain," kata Sigit.

Hutan-hutan di Jawa Barat, kata Sigit, menyimpan banyak populasi primata jawa, seperti owa, lutung dan surili. Survey yang dilakukan pihaknya, kebanyakan owa jawa ini banyak dimiliki oleh warga dari daerah Cianjur.

"Ada warga dari Cianjur yang datang menyerahkan owa jawa kesini. Dia bilang mendapatkannya dengan menukar owa dengan barang-barang berharga, soalnya masih ada mitos kalau membeli primata dengan uang sama dengan menjual manusia," kata Sigit.

Karena satwa primata ini dilindungi, tentunya teman-teman di luar sana yang memeliharanya, ada baiknya untuk menyerahkan satwa dilindungi tersebut. Satwa langka ini kian hari kian terancam punah karena alih fungsi hutan hingga aktivitas jual beli. Jadi, lebih baik menyelamatkannya daripada memeliharanya di tempat yang bukan habitatnya.

Waktu sudah jam lima sore saat itu. Kami pun pulang. Sepanjang perjalanan, sayup-sayup suara takbir Iduladha mulai terdengar. Mendengar cerita detik-detik kelahiran Ukong, membuat kami takjub. Kuasa Tuhan untuk menggerakkan semua alam dan isinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jangan Takut Ke Bromo! #2 - Jalan Kaki Dari Cemoro Lawang

SETELAH turun dari kendaraan "byson" di Cemoro Lawang, udara segar sore hari langsung terasa bersama hembusan angin. Bentangan langit menampakkan biru yang sempurna. Pemilik warung tepat di dekat elf berhenti, langsung menawarkan penginapan.

"Penginapan air panas Rp 150 ribu mas," kata seorang pria yang belakangan diketahui namanya pak Santoso.

Saya pun mencoba menawarnya setengah mati. Namun, tetap saja dia tidak bergeming dengan harga yang ia tawarkan. Informasi yang saya dapatkan, harga penginapan kelas home star di Cemoro lawang ini sekitar Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu. Mungkin karena saat berkunjung kesana masih dalam suasana libur lebaran, harga penginapan jadi dipatok hingga Rp 150 ribu.

Dengan pertimbangan harga yang ditawarkan masih belum menguras isi dompet, akhirnya saya menerima tawaran satu kamar. Tepat di depan Cemara Indah. Di penginapan pak Santoso ini, ia juga memiliki warung makanan yang dikelola oleh anaknya.


Jangan Takut Ke Bromo Sendirian #1

RUTINITAS pekerjaan menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini sangat padat. Bahkan, saya baru bisa libur pada H-2. Formulir cuti sudah disebar pada sejumlah karyawan. Tidak terkecuali saya.

Namun, sengaja saya tidak mengambil cuti sebelum lebaran. Saya lebih prepare untuk mengambil cuti setelah lebaran. Ketika teman-teman saya kembali bekerja, saya sedang cuti.

Foto-foto Gunung Bromo selalu berkelebat dalam pikiran saya. Hingga akhirnya, setelah penelitian pustaka tentang rute dari Bandung menuju Bromo, kemudian mencari-cari tiket di saat arus mudik dan balik yang harganya selangit, akhirnya saya pun berangkat.

Tips Hemat Wisata ke Bali, Gunakan Motor & Smartphone

BALI itu destinasi wisata yang terlalu mainstream buat saya pribadi. Namun, akan tidak mainstream tergantung bagaimana kita mengenal Bali. Trip saya ke Bali pertengahan Maret kemarin dalam rangka cuti. Bali bukan tujuan utama, melainkan mendaki kawah Ijen adalah trip utama saya Maret lalu.
Karena kawah Ijen berada di Banyuwangi dan Banyuwangi hanya tinggal nyebrang ke Bali, usai mendaki ke Ijen, saya memutuskan ke Bali via Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.